Tirto - Banjir yang kembali melanda Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, tidak hanya memaksa ratusan warga mengungsi, tetapi juga melumpuhkan sumber penghidupan mereka. Sejumlah pengungsi kini harus bertahan hidup di posko tanpa kepastian pekerjaan.
Ubaidillah, salah satu warga terdampak, telah mengungsi selama empat hari sejak Kamis (22/1/2026) di Gedung Kopindo, Wiradesa. Ia mengungkapkan bahwa selama berada di pengungsian, dirinya belum bisa bekerja sama sekali.
“Kalau selama di sini masih menganggur,” ujar Ubaidillah lirih.
Sebelum banjir datang, Ubaidillah bekerja di bagian produksi batik, salah satu sektor yang menjadi sumber penghidupan utama warga setempat. Namun genangan air yang merendam permukiman dan akses jalan membuat aktivitas ekonomi terhenti.
Hingga Sabtu (24/1/2026), jumlah warga Desa Mulyorejo yang terdampak banjir diperkirakan mencapai sekitar 389 orang. Meski demikian, Ubaidillah mengaku bersyukur karena bantuan logistik dan layanan pengobatan bagi pengungsi sejauh ini masih tercukupi.
“Alhamdulillah bantuan mencukupi, kebutuhan pengungsi terpenuhi,” katanya.
Banjir yang terjadi kali ini disebut lebih parah dibanding tahun sebelumnya. Menurut Ubaidillah, banjir hampir selalu datang setiap tahun dan terus mengulang penderitaan warga.
Kondisi tersebut membuat warga berharap adanya solusi nyata dan berkelanjutan dari pemerintah. Mereka mendambakan pembangunan tanggul atau upaya lain agar banjir tidak lagi menjadi ancaman tahunan.
“Harapannya dibuat tanggul atau solusi supaya kampung kami tidak terkena banjir lagi,” pungkasnya.
Bupati Pekalongan Dr. Hj. Fadia Arafiq, S.E., M.M., juga menegaskan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, termasuk dengan Gubernur Jawa Tengah Komjen Pol (Purn) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., agar penanganan infrastruktur yang rusak, khususnya sungai-sungai rawan banjir, dapat segera dilakukan.
"Dalam hal ini kami akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, karena pak Gubernur juga baik dan juga responsif dan tanggap, karena masalah ini cukup serius. Tapi kami tidak diam saja, kami melakukan upaya semampu kami dengan menahan aliran air dengan tumpukan karung yang berisi tanah untuk penanganan bersifat sementara dan memberikan bantuan bagi warga yang terdampak," ungkap Bupati Fadia setelah memantau rumah pompa di Kali Pencongan, Wiradesa.
Dalam keterangannya, Bupati Fadia mengimbau masyarakat untuk bersabar menghadapi situasi bencana ini. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, dan Forkopimda terus bekerja maksimal dalam penanganan bencana di seluruh wilayah Kabupaten Pekalongan.
(rez).
Banjir Mulyorejo Lumpuhkan Aktivitas Warga, Pengungsi Kehilangan Mata Pencaharian
|
2
min read
1 hari yang lalu
#Kabupaten Pekalongan
#Banjir
#Warga Kehilangan Pekerjaan
Diskusi
Login untuk mengirim komentar