Dalam rangka mengantisipasi inflasi yang terjadi  Natal dan Tahun Baru 2019, Bank Indonesia Perwakilan Tegal menggelar rapat koordinasi High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah atau TPID bulan Oktober 2019 di Hotel Horison, Selasa (29/10/2019).

Dalam kegiatan tersebut, dihadiri, Bupati Pekalongan, perwakilan dari Bupati/Wali Kota diwilayah BI Perwakilan Tegal, Kepala Bulog Divre Pekalongan, para Kelapa BPS di eks Karesidenan Pekalongan, para Kepala Dinas di eks Karesidenan Pekalongan, Anggota Satgas Pangan di eks Karesidenan Pekalongan, dan Sales Branch Manager Pertamina

“pada dua momen yaitu Lebaran dan Natal serta tahun baru biasanya terjadi tekanan harga, untuk itu kita antisipasi dengan menggelar rapat satu bulan sebelumnya,” kata Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Tegal Muhamad Taufik Amrozy.

Menurutnya ada beberapa hal yang mempengaruhi inflasi diantaranya yakni faktor kemarau yang berkepanjangan yang berpengaruh pada pola tanam. “dari penuturan BMKG dibeberapa daerah sudah dikategorikan memasuki musim hujan, itu juga akan berpengaruh pada hasil tanaman dan supply,” tuturnya.

Untuk ketersediannya beras sendiri, lanjut Amrozy, bulog masih mempunyai cadangan hingga dua tahun mendatang, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. “untuk pertamina sendiri yang menangani BBM dan LPG juga menginformasikan stok aman untuk natal dan tahun baru, bahkan untuk menjamin kelangkaan akan di bentuk satgas khusus,” tuturnya. 

Berdasarkan data, lanjut Amrozy, dari 10 komoditas penyumbang inflasi dan sering muncul pada periode Natal dalam 4 tahun terakhir diperoleh Kuadran 1 dengan komoditas, Telur Ayam Ras, Beras, Bawang Merah dan Cabe Merah yang perlu diwaspadai. Selain itu pada Kuadran 4 dengan komoditas Melon, Cabe Rawit, Daging Ayam Ras dan Rokok kretek filter juga menjadi prioritas selanjutnya untuk diwaspadai. “kita himbau kepada masyarakat untuk berbelanjalah secara bijak dan jangan melakukan aksi borong, karena pemerintah bersama TPID nasional dan daerah siap menjamin kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut menuturkan, dalam high level meeting TPID yang diselenggarakan oleh BI Tegal dilakukan agar tidak terjadi inflasi maupun deflasi khususnya dalam sektor daging ayam. “Ini perlu adanya holdingisasi karena usaha penggemukan ayam yang ada di Kabupaten Pekalongan tumbuh subur. Nanti akan kita data, termasuk yang ada di Batang, Pemalang, Pekalongan, Tegal dan Brebes. Kalau tidak dikendalikan masyarakat bisa rugi. Artinya bahwa kalau terjadi deflasi berarti barang terlalu banyak, kemudian pasar melimpah, maka para produsen akan merugi yaitu teman teman para pengusaha ayam potong,” kata bupati.

“Kalau terjadi inflasi karena barang ini distop atau didistribusikan ke daerah lain maka akan terjadi inflasi maka yang merugi masyarakat banyak,” tambah Asip.

High Level Meeting yang diselenggarakan BI Tegal ini, kata Bupati, tujuannya agar Pemerintah khususnya Kabupaten Pekalongan punya treatment yang jelas menjaga inflasi walaupun pada saat ini angka inflasi di Kabupaten Pekalongan masih lebih rendah dari Propinsi yang 3,13 dan pusat 3,39 sementara Kabupaten Pekalongan 3,08. “ Walaupun angkanya masih aman, Tetapi langkah langkah preventif harus kita lakukan. Termasuk gas. Gas yang subsidi yang terjadi di Kabupaten Pekalongan itu kadang suatu saat terjadi kelangkaan, disaat lain normal,” tambahnya.

Secara umum, kata bupati, ketersediaan bahan baku terutama beras dan minyak terjaga semua dan tercukupi terutama menghadapi natal dan tahun baru. “Inflasi di Kabupaten Pekalongan tahun 2017 sempat naik diangka 4,17 tetapi sekarang sudah kembali diangka 3,08,” jelas bupati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here