Dalam rangka implementasi Program Zurich Flood Resilience Alliance (ZFRA) di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Bupati Pekalongan KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si bersama Walikota Pekalongan KH. Saelany Mahfudz dan Mr. Sulaiman Salwani perwakilan Mercy Corps Indonesia menandatangani nota kesepahaman mengenai Implementasi Program Jejaring Ketahanan Banjir. Penandatanganan dilakukan pada acara Kick-off Meeting dan Focus Group Discussion (FGD) Kajian Dampak dan Risiko Iklim Kota dan Kabupaten Pekalongan, di Hotel Santika Pekalongan, Kamis (24/10/2019).

Dalam sambutannya, Bupati menyambut baik ikhtiar yang dilakukan oleh Mercy Corps Indonesia dalam rangka mengantisipasi perubahan iklim dan bencana. Berkaitan dengan Program Iklim (ProKlim), Bupati KH. Asip mengungkapkan bahwa dirinya belum lama ini memperoleh penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia.“Dua minggu yang lalu kami mendapatkan penghargaan sebagai salah satu Bupati Pembina Utama Program Iklim dari KLHK Republik Indonesia yaitu berkaitan dengan bagaimana salah satu daerah di Kabupaten Pekalongan itu bisa melakukan antisipasi terhadap perubahan iklim,” ungkap Bupati.

Lebih lanjut, Bupati menjelaskan tentang luas wilayah yang dimiliki Kabupaten Pekalongan. Dikatakan Bupati, Kabupaten Pekalongan luasnya 83.000 hektar, sementara Kota Pekalongan luasnya 4.500 hektar. Dengan luas 83.000 hektar itu, terang Bupati, pihaknya sudah membuat rancangan mana yang untuk kawasan industri, mana yang untuk kawasan konservasi.

“Kami punya 25.000 hektar kawasan konservasi hutan. Hutan kami dibagi dua yakni hutan lindung sekitar 3.000 hektar, kemudian hutan produksi sekitar 22.000 hektar. Kami juga punya kawasan pertanian seluas 23.000 hektar, dimana yang 19.000 hektar kaitannya dengan banjir. Yang 19.000 hektar kita jaga sebagai kawasan LP2B, sedangkan yang 3.000 hektar untuk kepentingan lainnya. Kita juga punya kawasan industri 1.500 hektar yang sudah kita siapkan dan hal itu sudah sesuai dengan tata ruang kita,” papar Bupati secara gamblang.

Bupati menuturkan, seperti yang telah disebutkan oleh Mr. Sulaiman bahwa pembangunan itu harus memperhatikan tata ruang wilayah. Dikatakan Bupati, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan dan Kabupaten Batang masuk dalam satu kawasan wilayah strategis Jawa Tengah yaitu Petanglong. Tentu satu Kota dan dua Kabupaten ini harus sinergi terus-menerus melakukan kerjasama taktis strategis agar pengembangan ketiga wilayah ini betul-betul sesuai dengan apa yang diharapkan dari Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah yaitu Petanglong.

“Banyak kerjasama kawasan juga antara Kabupaten dan Kota Pekalongan yang akan kita lakukan. Hal ini karena kita punya luas wilayah yang kebetulan secara geografis berada di hulu, maka ini tentu akan berdampak di hilir. Karena sebagian hilir kita berada di Kota Pekalongan,” ujar Bupati.

Pemerintah Kabupaten Pekalongan terus-menerus mengupayakan agar kita menjaga lingkungan dari hulunya. Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam menjaga hutan lindung, hutan produksi sudah diakui oleh Kementerian dan banyak pihak. Langkah kita untuk mencegah banjir agar banjirnya tidak ke Kota Pekalongan juga sedang kita lakukan. “Kami sedang melakukan gerakan yang sudah mendapat apresiasi dari banyak pihak yaitu “Kaline Resik Rejekine Apik”.

Program bersih-bersih sungai kita ini sudah dimulai sejak dulu. Termasuk untuk mencegah banjir, rob. Kami juga memoratorium pengadaan sumur dalam tanah. Saya membaca betul hasil penelitian DR. Andreas dari ITB bahwa salah satu penyebab rob adalah terlalu banyaknya sumber air dalam atau air bawah tanah (ABT) yang kita manfaatkan,” katanya.Tahun 2019 ini Pemkab Pekalongan telah mendeklarasikan bahwa seluruh produk industri tidak boleh mencemari sungai lagi. “Sebanyak 120 pemilik wash jeans sudah kami kumpulkan dan kami sudah punya solusinya bagaimana mengolah limbah.

Pertama yang akan kita tertibkan adalah IPAL komunal maupun IPAL yang dimiliki sendiri oleh industri,” jelasnya.Upaya penanggulangan bencana dan pencegahan menjadi hal yang terus-menerus kita lakukan. Bupati sangat serius menangani persoalan bencana ini. Jadi nanti kalau sungainya bersih, kesadaran masyarakat untuk membuang sampah bisa kita batasi.“Kita sudah melaunching Aplikasi Sampah “YOWASTE” yaitu sebuah aplikasi pengelolaan sampah berbasis android. Kami sudah melangkah untuk pengelolaan sampah dengan aplikasi “YOWASTE” itu,” tandas Bupati.Di akhir sambutan Bupati mengapresiasi kehadiran Mercy Corps Indonesia.

Menurutnya, sangat penting bagi kita untuk terus-menerus, tidak hanya bisa menyelesaikan secara praktis kebijakan, tetapi akan lebih penting bagaimana mengedukasi masyarakat dan melibatkan perguruan tinggi.Acara dihadiri Bapppeda Provinsi dan OPD lainnya, Plh. Sekda sekaligus Asisten I Drs. Ali Riza, M.Si, Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Pekalongan Ir. Bambang Irianto, M.Si dan Kepala Bappeda Kota Pekalongan Anita, para peserta baik dari akademisi, praktisi, LSM.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here