Selain Pakem Lima panji Cempaluk, pada Kirab Budaya Mapanji Cempaluk tahun 2019, mengambil tema Wahyu Tumurun. 

Demikian disampaikan oleh salah satu Panitia Kirab Mapanji Cempaluk 2019, Agus Sulistiyo, Kamis (22/8/2019). Menurutnya, tema tersebut berkaitan dengan adanya pemilihan Lurah dan Kepala Desa serentak di Kabupaten Pekalongan yang akan digelar pada bulan November tahun ini. “adapun Uborampe Wahyu Tumurun yang terdiri dari Makhutho atau Simbol kepemimpinan, Kukila atau Simbol kemampuan menyampaikan pesan dengan cerdas dan amanah, Kusuma ataubSimbol Keharuman dan Keindahan sebagai Kusuma Bangsa, Uwi atau Simbol Produktivitas berupa hasil bumi yang melimpah,” jelasnya.

Agus Sulitiyo tengah bersama Bupati Pekalongan Asip Kholbihi dalam acara Kirab Budaya Mapanji Cempaluk 2019.

Dengan Tema Wahyu Tumurun dalam Kirab ini, pihaknya berharap agar para pemimpin desa yang terpilih pada PILKADES Tahun 2019 ini dapat sukses “selain itu menghasilkan para pemimpin yang Produktif,  amanah, cerdas, dan bisa membawa keharuman nama Kabupaten Pekalongan, pada khususnya dan Bangsa Indonesia pada umumnya. seperti yang disimbolkan dalam uborampe Wahyu Tumurun diatas,” tuturnya.

Agus menambahkan, Mapanji Cempaluk sendiri berasal dari kata Lima Panji Cempaluk, yang terdiri dari, Bibit Pohon Asem yang di Pekalongan buah Asem  disebut dengan Cempaluk, kemudian Air Kendi yang jaman dahulu masyarakat desa punya tradisi menyediakan air kendi di halaman rumahnya, yang ketiga yakni Tongkat Kayu Galih Asem, Galih Asem merupakan bagian dari inti atau hatinya batang pohon asem. “Yang keempat Bendara Merah Putih, Bendera Gula Kelapa yang sudah memiliki sejarah panjang sebagai bendera kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, yang berikutnya menjadi Bendera Negara Republik Indonesia. Dan yang terakhir adalah Pataka Kabupaten Pekalongan yakni Bendera Pemerintah Kabupaten Pekalongan,” tambahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here