Fortuna, salah satu icon brand agency lokal terbesar di Indonesia membuka pelatihan yang bertema “Batik Tiada Batas” untuk pelaku UMKM Milenial pengrajin Batik di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (18/8/2019).

Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan daya saing sekaligus mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) melalui media digital, digital branding dan digital marketplace. Acara ini juga dihadiri oleh, Asip Kholbihi, Bupati Pekalongan dan berbagai UMKM Milenial pengrajin Batik di Pekalongan. Selama 4 bulan, perusahaan akan menggelar pelatihan seminar setiap bulannya yang diikuti lebih dari 30 UMKM pengrajin batik milenial dan kalangan difabel asal Pekalongan. Bagi peserta yang memperlihatkan progress atau hasil terbaik juga akan diberikan penghargaan.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi didampingi Ceo Fortuna AG Edhi Bawono menyampaikan materi pada acara Media Gathering “Batik Tanpa Batas” di Aula Kantor Dinperindag, Minggu (18/8/2019).

AG Edhi Bawono, selaku CEO Fortuna mengatakan, “Batik Tiada Batas” diartikan bahwa dengan memanfaatkan teknologi digital, Batik bisa dikenal dan dijual ke manapun di dunia. Sekarang digitalisasi sudah masuk ke berbagai aspek kehidupan kita, mulai dari pemesanan produk, transaksi pembayaran hingga produk sampai pelanggan, semua bisa dilakukan melalui smartphone. “Karena itulah, penting bagi pelaku UMKM memaksimalkan perubahan ini, dengan cara go online. Nah, untuk bisa memasarkan produk mereka dalam bisnis digital, maka skill digital branding menjadi penting untuk dimiliki,” katanya.

Edhi menambahkan, Batik adalah budaya luhur asli Indonesia yang harus terus dilestarikan oleh bangsa ini. Jika dahulu kita hanya berpikir pelestarian batik hanya dengan menjadi pengrajin batik, sekarang saatnya kita mengubah pola pikir tersebut. “Melestarikan batik masa kini adalah dengan menjadi pebisnis atau pemasar digital sehingga batik tidak hanya lestari tetapi memiliki insentif material. Ini yang coba kami tanamkan dalam benak pelaku UMKM milenial di Pekalongan agar bersemangat dalam melestarikan budaya Indonesia.” Tuturnya.

Sementara itu, Bupati Pekalongan  Asip Kholbihi, menyatakan, pelatihan ini dapat membantu UMKM Batik Pekalongan untuk besaing di dunia. Pelatihan ini juga searah dengan program Kementerian Komunikasi dan Informatika yang menargetkan pertumbuhan UMKM Go Online di tahun ini. “Salah satu cara agar bisnis bisa bersaing adalah dengan mengetahui cara memasarkan dan menjual produk secara digital,” Kata Bupati.

Di Kabupaten Pekalongan sendiri, kata Asip, ada 26 ribu sektor UMKM batik dan konveksi, dan menjadi daerah produksi dari dua komoditas tersebut, menurutnya, jika distribusi bisa dipangkas maka akan memunculkan harga yang kompetitif. “saat ini banyak produk luar negeri yang membanjiri Indonesia, untuk itu kita harus bangun SDM agar produk kita yang membanjiri luar negeri, kita sudah ada produk khas tinggal diperbaiki mutunya serta aspek kualitas dan kuantitas juga diperhatikan,” jelasnya.

Sementara itu, Wiwit, Pelaku UMKM Batik di Pekalongan mengatakan, bahwa saat ini pemasaran produk batiknya masih konvensional dan belum menyentuh ke dunia digital. “Kami menyadari potensi Batik Pekalongan dan melihat bahwa digital branding akan membantu kami melebarkan sayap ke pasar yang lebih luas. Karena dengan teknologi digital, pelaku bisnis bisa memiliki dua kios, yakni kios offline di pasar dan kios online.” Ujar 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here