Sebanyak 19,39 Persen masyarakat Kabupaten Pekalongan saat ini masih melakukan Buang Air Besar atau BAB sembarangan, data tersebut mengalami penurunan karena sebelumnya data BABS di Kota Santri mencapai 19,45 persen.

Demikian disampaikan Wakil Bupati Pekalongan Arini Harimurti saat menghadiri acara penggalangan komitmen percepatan stop buang air besar sembarangan atau SBS tingkat Kabupaten pekalongan di Aula Setda Lantai 1, Senin (1/4/2019).

Dikatakan Wakil Bupati, bahwa kebiasaan Buang Air Besar Sembarangan atau BABS jangan dianggap sepele karena hal yang dianggap sepele ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Menurutnya, masyarakat kita belum sadar akan bahaya dari buang air besar sembarangan. “Perlu diketahui bahwa buang air besar itu sangat berbahaya bagi kesehatan dan dapat menyebabkan penyakit menular sehingga hal ini perlu segera diatasi guna mengubah kebiasaan buruk masyarakat kita,” katanya.

Dijelaskan Arini, Pemkab menganggarkan sekitar 11 Milyar pada tahun 2019 untuk menangani masalah pemenuhan sarana sanitasi. Dan masing-masing desa diharapkan dapat melaksanakan dengan baik. “kabupaten Pekalongan sendiri menempati urutan ke -32 dari jumlah 35 kabupaten yang ada di Jawa Tengah. Ini menunjukan kita harus benar-benar menangani masalah ini secara serius bersama-sama. Bukan hanya dinas kesehatan saja melainkan semua lapisan masyarakat guna mencapai target nasional,” terangnya.

Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Hindun menuturkakan, DPRD telah mendorong pemerintah daerah untuk mengatasi masalah BABS, dan sudah diwujudkan dalam penganggaran tahun 2019 terutama yang dinas perumahan dan lingkungan hidup dengan total anggaran sekitar 11 Milyar untuk mengatasi permasalahan jamban sekitar 19% yang harus diselesaikan. “Tahun 2019 sudah disahkan anggaran yang akan dialokasikan dalam rangka perbaikan masalah BABS guna memenuhi target nasional,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan Setiawan Dwi Antoro menjelaskan, berdasarkan data, ada 29 Desa yang sudah mencapai target 100% yang tidak buang air besar sembarangan. Dan ada 262 desa yang sudah mendapat akses sarana untuk mengatasi BABS. “faktor utama banyaknya warga yang masih buang air besar sembarang dikarenakan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat. Kita telah berupaya selalu memberikan motivasi agar masyarakat berpola hidup bersih dan sehat. Selain itu, juga melakukan penyediaan sarana jamban keluarga agar masyarakat tidak buang air besar sembarangan,” tuturnya.
Acara komitmen percepatan stop buang air besar sembarangan atau SBS tingkat Kabupaten pekalongan Sendiri diikuti 285 desa, 19 camat, 23 OPD, 26 kepala puskesmas, 26 sanitarian puskesmas dan dihadiri perwakilan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here